Kronologis Bentrok Kelompok Sunni Syiah di Sampang Madura

Kronologis Bentrok Kelompok Sunni Syiah di Sampang Madura

Pertentangan pengikut  Sunnah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah)-Syiah terjadi lagi. Bentrok antarwarga di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu 26/8/2012) kembali terjadi. Kedua warga yang diduga berbeda aliran keagamaan terlibat bentrok dengan senjata tajam. Belasan rumah dibakar.

Peristiwa itu bermula, saat keluarga pimpinan Islam Syiah,  ustadz Tajul Muluk hendak mengunjungi keluarganya di penjara dengan mengendarai mobil.  Saat dalam perjalanan, mobil yang dikendarai keluarga ustadz Tajul Muluk ini dicegat sekelompok warga yang mengemudikan sepeda motor. Mereka mengolok-olok keluarga ustadz Tajul, karena dianggap menganut ajaran sesat. Ustadz Tajul merupakan terpidana kasus dugaan penistaan agama yang kini tengah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Sampang. Akibat diganggu kelompok massa bersepeda motor ini, keluarga Tajul mengurungkan diri berkunjung ke Lapas Sampang. Akan tetapi aksi sekelompok massa bersepeda motor tersebut tidak sampai di situ. Para pengendara motor ini terus membuntuti keluarga ustadz Tajul hingga ke rumahnya di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Saat itulah terjadi bentrok antara kedua belah pihak. 

Bentrok antara kelompok bersepeda motor dengan keluarga kelompok Islam Syiah ini memicu warga lain yang selama ini tidak suka dengan aliran itu berdatangan. Massa bersenjata tajam mendatangi perkampungan Syiah di Dusun Nanggernang dan membakar sebagian rumah pengikut aliran itu. Tidak kurang dari seribu warga bersenjata tajam mengepung pengikut kelompok Islam Syiah. Petugas dari kepolisian Polres Sampang sedang berupaya mengamankan aksi penyerangan ini dengan menerjunkan petugas gabungan dan meminta bantuan TNI.

Sebanyak 200 jiwa lebih pengikut Islam Syiah terpaksa mengunggi ke tempat yang lebih aman. Harta benda mereka juga dirampas dan anak-anak kelompok Syiah dikucilkan. Ketegangan pada aksi penyerangan pertama ketika itu, reda, setelah petugas gabungan dari unsur Polri dan TNI berupaya melakukan negosiasi kepala kedua kelompok yang bersitegang itu. Tercatat enam orang korban dalam kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Sampang Madura oleh kelompok massa tak dikenal, Minggu (26/8/2012).Dari enam orang itu, satu orang di antaranya tewas. Lima korban lainnya menderita luka-luka. Masing-masing sebanyak empat orang dari kelompok Islam Syiah dan satu orang dari kelompok penyerang. Satu di antara empat orang korban penyerangan itu kritis.

Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura kali ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini.  Aksi serupa juga terjadi pada akhir Desember 2011. Ketika itu, rumah pimpinan Islam Syiah, mushala dan madrasah kelompok Islam minoritas ini diserang oleh kelompok massa anti Syiah.

Kronologis menurut BASSRA

Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) punya versi lain atas konflik berdarah antara kaum Sunni dan Syiah, Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim. Bassra menemukan ada lemparan bom molotov dari kaum Syiah kepada kaum Sunni saat penghadangan bus.

Kronologi peristiwa menurut BASSRA

  • Pada tabnggal 19 Juli 2012, Bassra menampung tuntutan masyarakat Karang Gayam (tempat desa pemimpin aliran Syiah, Tajul Muluk) . Di antara tujuan masyarakat kala itu adalah; Pertama;  Ucapan terima kasih atas penanganan serius aparat dalam kasus Tajul Muluk dengan vonis 2 tahun penjara. Kedua, bila Tajul telah divonis sesat, maka pengikutnya haruslah kembali ke paham Ahlus Sunnah wal Jamah (Aswaja) atau ditindak sebagaimana pemimpinnya, Tajul Muluk. Ketiga, masyarakat Karang Gayam meginginkan desa mereka seperti desa yang lain, tidak ada Syiah. Terakhir, ulama diminta menyampaikan tuntutan ini pada pihak yang berwenang.
  • Atas kedatangan masyarakat desa Karang Gayam ini, maka ulama BASSRA menemui FORPIMDA pada 7 Agustus 2012 dengan menghasilkan 6 kesepakatan:
  1. Pengembalian pengikut Tajul Muluk ke Aswaja sedang diupayakan oleh gabungan pihak kepolisian-NU-MUI dan Ulama setempat dibawah koordinasi aparat Pemkab Sampang.
  2. Polisi diminta mengaktifkan pelarangan senjata tajam (Sajam)  di desa Karang Gayam – Beluuran.
  3. Anak-anal warga Syiah yang telah terlanjur dikirim (dibeasiswakan ke pondok-pondok Syiah,  disepakati sebagai tanggung jawab Pemkab Sampang untuk pemulangan dan memasukkan mereka ke pondok pesantren  Aswaja dengan biaya dari Pemkab.
  4. Ulama BASSRA bersama pemerintah Sampang akan terus mengawal naik bandingnya Tajul Muluk di antaranya akan menemui Gubernur Jatim, agar hukuman Tajul sesuai keputusan pengadilan Sampang atau ssuai tuntutan Jaksa.
  5. Khusus untk jangka pendek, kasus Sampang disepakati tidak mengangkat sebutan Syiah, cukup sebutan Aliran sesat demi proses hukuman Tajul bisa lancar.
  • Selanjutnya, usai menemui Bakorpakem, ulama Bassra mengupayakan agar Bakorpakem Sampang, bisa memutuskan dan menetapkan bahwa Syiah itu sesat yang harus dilarang di Madura dan selanjutnya, keputusan tersebut diajukan ke Bakorpakem Jatim bhkan ke Pusat.
  • Pada tanggal 23 Agustus 2012, masyarakat desa Karang Gayam, menuntut janji kembali pada para ulama Bassra atas pelaksanaan dan janji Pemkab Sampang yang disampaikan kepada ulama Bassra pada tanggal 7 Agustus 2012 sebelumnya. Alasan mereka, karena sampai saat itu, belum terlihat penanganan dari pihak manapun. Namun sebelum ulama Bassra sempat menemui Pemkab Sampang, hari itu juga, Ahad, 26 Agustus 2012, sudah meledak tragedi berdarah yang disebabkan anak-anak Syiah dipondokkan di YAPI (Bangil) dan Pekalongan hendak kembali dari liburan.
  • Saat itu, bus yang hendak menjemput mereka dihadang oleh masyarakat. Rupanya kaum Syiah tidak terima dan menyerang balik dengan menggunakan bom molotov. Maka terjadilah bentrokan kemudian kaum Sunni dari luar desa Karang Gayam ikut juga berdatangan, sehingga aparat polisi tidak bisa mencegah peristiwa.

Berbagai Opini

Berbagai komentar dan analisis sebagian besar tidak mengulas akar persoalan yang sesungguhnya. Analisa para pengamat pada umumnya bersifat klasik seperti  konflik keluarga, kriminal biasa, kemiskinan, kultur lokal masyarakat Madura, dan kegagalan intelejen. Bila dicermati sebenarnya persoalan antara Sunnah-Syiah adalah problem akidah Islam. Sehingga yang paling tepat menjelaskan solusi damai Sunnah-Syiah adalah para Ulama, bukan pengamat politik, pengamat sosial-kebudayaan dan aktivis LSM liberal.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk terulangnya aksi kekerasan terhadap warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur. Peristiwa tersebut dinilai sebagai kriminal murni, dan aparat penegak hukum didesak dapat menjalankan tugas penegakan dengan baik. “Saya melihat (kejadian) itu sebagai kriminal murni, karena dakwah tidak dibenarkan kalau sampai harus saling melukai, apalagi saling bunuh. Oleh karenanya aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, harus bisa bertindak sesuai dengan hukum yang ada,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Terkait tudingan sejumlah pihak Syiah sebagai aliran sesat, Kiai Said menambahkan, dengan tegas NU menolak penyelesaiannya dilakukan melalui jalur kekerasan. Jalur dakwah untuk tujuan pencerahan diminta tetap dikedepankan. “Kenyataannya di dunia ini Syiah dianggap sesat, keluar dari Islam dan lain sebagainya, tetap tidak dibenarkan kalau penyelesaiannya melalui jalan kekerasan. Laa ikraha fiddin,tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), tidak ada kekerasan dalam agama,” tegas Said Aqil. Ia menegaskan, NU  menolak kekerasan dari dan kepada siapapun, apapun latar belakang kejadiannya.  “NU dengan Syiah jelas beda, terlebih dengan Ahmadiyah, jelas berbeda. Tapi, dalam pergaulan kami menolak adanya kekerasan, karena ajakan berubah itu ada metodenya. Dakwah, diskusi yang bermartabat, dan itu semua yang selama ini kami lakukan,” tandas Kiai Said.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menegaskan, pertikaian di Sampang, Jawa Timur, tak berkaitan dengan konflik agama Islam Sunni-Syiah. Menurut mantan Gubernur Sumatera Barat ini, konflik di Desa Karang Gayam itu tak lain konflik keluarga, antara kakak dan adik. Kebetulan saja keduanya memiliki jamaah. Kakak beraliran Syiah, sedangkan adik beraliran Sunni. “Ini konflik bersaudara. Orang melebihkan sehingga seolah ini konflik Sunni-Syiah,” kata Mendagri kepada para wartawan di Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (28/8/2012).  Ketika ditanya keterkaitan konflik ini dengan pemilihan kepala daerah di Sampang, Gamawan mengatakan, kepolisian akan menelusuri hal itu. Saat ini, kepolisian telah menetapkan delapan tersangka. Status salah satu di antaranya telah ditingkatkan menjadi terdakwa.

sumber : http://www.hidayatullah.com dan berbagai sumber lainnya

ARTIKEL TERKAIT

INDOLINE – Indonesia Online Inspirasi Luarbiasa Manusia Indonesia.

Lebih baik memilih menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Majukan Indonesia Dengan inspirasi positif.

Editor In Chief : dr Widodo Judarwanto SpA. Grand Editor: Audi Yudhasmara. Editor: Sandiaz Yudhasmara, Betanandya Andika

Address: Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat phone 021-5703646 – 021-4466102 email: newindonesiaonline@gmail.com http://newindonesiaonline.wordpress.com

@Indonesia Online – Informasi Edukasi Networking

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Agama Islam, Berita Terkini, Hukum, Demokrasi dan HAM dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s