Perbedaan Syiah dan Sunni, Dua Mazhab Dalam Islam

Perbedaan Syiah dan Sunni, Dua Mazhab Dalam Islam

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama’ah  atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah atau Sunni adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah. Sedangkan Syiah ialah salah satu mazhab terbesar dalam Islam setelah Sunni. Syi’ah ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Muslim Syi’ah mengikuti Islam tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama malah sebahagian mereka menghina para Khulafa’Ar-Rasyidin yang merupakan sahabat Rasulullah S.A.W ini seperti juga Sunni menolak Imam Syi’ah.

Hubungan antara Sunni dan Syi’ah telah mengalami kontroversi sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para pengikut Bani Umayyah dan para pengikut Ali bin Abi Thalib. Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syi’ah dengan nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna meninggalkan.[4] Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah bermakna “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan sebagian sahabat yang mengikuti keduanya”.

Sebagian Sunni menganggap firqah (golongan) ini tumbuh tatkala seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang menyatakan dirinya masuk Islam, mendakwakan kecintaan terhadap Ahlul Bait, terlalu memuja-muji Ali bin Abu Thalib, dan menyatakan bahwa Ali mempunyai wasiat untuk mendapatkan kekhalifahan. Syi’ah menolak keras hal ini. Menurut Syiah, Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif.

Namun terdapat pula kaum Syi’ah yang tidak membenarkan anggapan Sunni tersebut. Golongan Zaidiyyah misalnya, tetap menghormati sahabat Nabi yang menjadi khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka juga menyatakan bahwa terdapat riwayat-riwayat Sunni yang menceritakan pertentangan di antara para sahabat mengenai masalah imamah Abu Bakar dan Umar.

Kajian dan penyelidikan yang natural sedakan syeikh al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut. Dia telah mengeluarkan fatwanya yang disiarkan pada tahun 1959M, di majalah Risalatu al-Islam yang diterbitkan oleh Darul al-Taqrib baina al-Madhahib al-Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan antara Mazhab-mazhab dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun 11 halaman 227 sebagai berikut: “Agama Islam tidak mewajibkan suatu mazhab tertentu atas siapapun di antara pengikutnya. Setiap muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu mazhab yang mana jua yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan menyakinkan. Dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab mazhab yang bersangkutan, yang memang dikhususkan untuknya. Begitu pula, setiap orang yang telah mengikuti salah satu di antara mazhab-mazhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke mazhab yang lain – yang manapun juga – dan dia tidak berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Kemudian dia berkata lagi:”Sesungguhnya mazhab Ja’fariyyah yang dikenali dengan sebutan mazhab Syi’ah Imamiyyah Ithna Asy’ariyah adalah satu mazhab yang setiap orang boleh beribadah dengan berpegang kepada aturan-aturannya seperti juga mazhab-mazhab yang lain….” “Kaum Muslimin sayugia mengerti tentang hal ini, dan berusaha melepaskan diri dari kongkongan ‘Asabiyyah (fanatik) dalam membela sesuatu mazhab tertentu tanpa berasaskan kebenaran….”

Perbedaan Syiah dan Sunni, Dua Mazhab Dalam Islam

Sunni

  • Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.
  • Ketika Rasulullah Muhammad SAW wafat, maka terjadilah kesalahpahaman antara golongan Muhajirin dan Anshar siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslimin. Para sahabat melihat hal ini akan mengakibatkan perselisihan antar kaum muslimin muhajirin dan anshor. Setelah masing-masing mengajukan delegasi untuk menentukkan siapa Khalifah pengganti Rasulullah. Akhirnya disepakati oleh kaum muslimin untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah.
  • Pada masa kekhalifahan ke-3, Utsman bin Affan, terjadi fitnah yang cukup serius di tubuh Islam pada saat itu, yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman. Pembunuhnya ialah suatu rombongan delegasi yang didirikan oleh Abdullah bin Saba’ dari Mesir yang hendak memberontak kepada Khalifah dan hendak membunuhnya. Abdullah bin Saba’ berhasil membangun pemahaman yang sesat untuk mengadu domba umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kemudian masyarakat banyak saat itu, terutama disponsori oleh para bekas pelaku pembunuhan terhadap Utsman, berhasil membunuh beliau dengan sadis ketika beliau sedang membaca Qur’an.
  • Segera setelah bai’at Khalifah Ali mengalami kesulitan bertubi-tubi. Orang-orang yang terpengaruh Abdullah bin Saba’ terus menerus mengadu domba para sahabat. Usaha mereka berhasil. Para sahabat salah paham mengenai kasus hukum pembunuhan Utsman. Yang pertama berasal dari janda Rasulullah SAW, Aisyah, yang bersama dengan Thalhah dan yang kedua ialah bersama dengan Zubair. Mereka berhasil diadu domba hingga terjadilah Perang Jamal atau Perang Unta. Dan kemudian oleh Muawiyah yang diangkat oleh Utsman sebagai Gubernur di Syam, mengakibatkan terjadinya Perang Shiffin. Melihat banyaknya korban dari kaum muslimin, maka pihak yang berselisih mengadakan ishlah atau perdamaian. Para pemberontak tidak senang dengan adanya perdamaian di antara kaum muslimin. Kemudian terjadi usaha pembangkangan oleh mereka yang pada awalnya berpura-pura / munafik. Merekalah Golongan Khawarij. Kaum Khawarij ingin merebut kekhalifahan. Akan tetapi, terhalang oleh Ali dan Muawiyah, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh keduanya. Ibnu Muljam dari Khawarij berhasil membunuh Khalifah Ali pada saat khalifah mengimami salat subuh di Kufah, tapi tidak terhadap Muawiyah karena dijaga ketat. Bahkan Muawiyah berhasil mengkonsolidasikan diri dan umat Islam, berkat kecakapan politik dan ketegaran kepemimpinannya. Karena belajar oleh berbagai pertumpahan darah, kaum muslim secara pragmatis dan realistis mendukung kekuasaan de facto Muawiyah. Maka tahun itu, tahun 41 Hijriyah, secara khusus disebut tahun persatuan (‘am al-jama’ah).
  • Kaum muslimin mendalami agama berdasarkan Al-Qur’an, dan memperhatikan serta ingin mempertahankan sunnah Nabi di Madinah. Akhirnya ilmu hadits yang berkembang selama beberapa abad, sampai tuntasnya masalah pembukuan hadis sebagai wujud nyata Sunnah pada sekitar akhir abad ke-3 hijriyah. Saat itu, lengkap sudah kodifikasi hadis dan menghasilkan al-Kutub al-Sittah (Buku Yang Enam) yakni oleh al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (w. 261 H), Ibnu Majah (w. 273 H), Abu Dawud (w. 275), al-Turmudzi (w. 279 H), dan al-Nasa’i (w. 303 H).
  • Ahlus-Sunnah pada masa kekuasaan Bani Umayyah masih dalam keadaan mencari bentuk, hal ini dapat dilihat dengan perkembangan empat mazhab yang ada di tubuh Sunni. Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, hidup pada masa perkembangan awal kekuasaan Bani Abbasiyah.
  • Terdapat empat mazhab yang paling banyak diikuti oleh Muslim Sunni. Di dalam keyakinan sunni empat mazhab yang mereka miliki valid untuk diikuti. Perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental. Perbedaan mazhab bukan pada hal Aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tata cara ibadah. Para Imam mengatakan bahwa mereka hanya ber-ijtihad dalam hal yang memang tidak ada keterangan tegas dan jelas dalam Alquran atau untuk menentukan kapan suatu hadis bisa diamalkan dan bagaimana hubungannya dengan hadis-hadis lain dalam tema yang sama. Mengikuti hasil ijtihad tanpa mengetahui dasarnya adalah terlarang dalam hal akidah, tetapi dalam tata cara ibadah masih dibolehkan, karena rujukan kita adalah Rasulullah saw. dan beliau memang tidak pernah memerintahkan untuk beribadah dengan terlebih dahulu mencari dalil-dalilnya secara langsung, karena jika hal itu wajib bagi setiap muslim maka tidak cukup waktu sekaligus berarti agama itu tidak lagi bersifat mudah. Hanafi Didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam (sekitar 32%), penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan Turki, Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi’i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan). Maliki Didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 20% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara.Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup dan meninggal di sana dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits. Syafi’i Dinisbatkan kepada Imam Syafi’i memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia. Pengikutnya tersebar di Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei. Hambali Dimulai oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.

SYIAH

  • Syiah ialah salah satu mazhab terbesar dalam Islam setelah Sunni. Syi’ah ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Muslim Syi’ah mengikuti Islam tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama malah sebahagian mereka menghina para Khulafa’Ar-Rasyidin yang merupakan sahabat Rasulullah S.A.W ini seperti juga Sunni menolak Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Shī`ī  menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Tetapi Ali bin Abi Talib dan para Ahlul Bait sendiri telah menolak kepercayaan Syi’ah dan menyatakan mereka sebagai kafir .Kebanyakan Sunni Islam mengatakan bahawa Mahzab Syiah merupakan satu kefahaman berbeda dengan ajaran Islam karena kepercayaan bahwa Ali yaitu sepupu Rasulullah sepatutnya menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad, dan bukannya Abu Bakar.
  • Aliran Syiah Islam berpecah menjadi cabang-cabang kecil. Tiga cabang yang utama di masa kini mempunyai pengikut yang besar. Yang paling terkenal dan terbesar ialah golongan Syiah Imam Dua Belas atau Imamiyyah/Ja’fariyyah  yang mencangkup 90% penduduk di Iran dan sebahagian besar penduduk Iraq. Golongan Syiah yang kecil lain termasuklah al-Kaisaniyyah, al-Zaidiyah, Imamiyyah, al-Ghulat, Ismailiyah, dan Syiah Imam Bertujuh. Alawiyyah dan Duruzi juga menganggap diri mereka Syiah meskipun mereka tidak sentiasa diiktiraf oleh Syiah lain. Tarikat-tarikat Sufi beraliran Syiah termasuklah Tarikat Alevi, Bektashi Hamadani dan Fatimiyyah. Dua puluh peratus dari penduduk Turki mengikut Tarikat Alevi sementara Lubnan dan Syria pula mempunyai bilangan besar golongan Duruzi dan Alawi.
  • Aliran Syiah mempercayai bahawa Nabi telah mewasiatkan Keturunannya menjadi pemimpin umat Islam dan hendaklah bersatu di bawah Imam.
  • Banyak hadith-hadith yang sahih daripada Nabi S.A.W yang menunjukkan kebenaran Ahlu l-Bait AS di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sila lihat buku Syi’ah Wa Hujjahtu-hum al-Tasyayyu’ (Syi’ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu’) dan juga buku al-Muruja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah) khususnya dialog keempat. Ia akan memuaskan hati anda jika anda orang yang insaf. Jika tidak, keuzuran anda adalah disebabkan kejahilan anda sendiri.
  • Istilah Syi’ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`. “Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali  artinya “pengikut Ali”, yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun)
  • Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi’ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.
  • Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
  • Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.
  • Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
  • Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.
  • Pergerakkan Hizbullah di Lubnan adalah dari golongan Syiah Imam Dua Belas.
  • Pengertian Syiah mengikut pandangan syiah sendiri adalah seperti berikut: Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”. Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”. Ketiga dan keempat adalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.
  • Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi S.A.W lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi S.A.W bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”. Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi S.A.W. Yang dimaksudkan oleh oleh al-Quran dan hadith itu bukanlah kata khusus kepada kelompok Syiah ini, melainkan kata umum kepada pengikut kepada sesuatu golongan pengikut, yakni golongan Ibrahim a.s, golongan yang derhaka, golongan Musa a.s. Bahkan Rasulullah sendiri pernah bersabda mafhumnya: golongan kamu Ali akan terbagi tiga. orang yang terlampau memuja mu, orang yang terlampau membenci mu dan orang yang cinta kepadamu kerana Allah. Golongan pertama dan kadua itu masuk neraka. Golongan ketiga itu masuk syurga. Terbukti golongan pertama dan kedua itu puak Syaih dan Khawarij. Ijtihad kebanyakkan para ulama Sunni sebagai Syiah yang menyeleweng ialah golongan Syiah daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah dan Zaidiyyah, yang diringkaskan sebagai Ghulat kerana mendewakan Ali. Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS, generasi kelima keturunan Ali bin Abi Talib dan Fatimah Zahrah r.a, pula menyatakan Syiah tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith. Golongan Syiah Imamiyyah mengganggap Ja’far as-Sadiq AS sebagai imam keenam umat Islam. Walaupun beliau tidak mengakuinya dan tidak menerima baiah mereka itu.
  • Aqidah 5 perkara menjadi Rukun Kepercayaan atau Usūl al-Dīn bagi golongan Mazhab Syiah: Tauhid – Bahwa Allah s.w.t. itu Satu Adalah – Bahwa Allah s.w.t. itu Adil, Qiyamah – Bahwa Allah s.w.t. akan membangkitkan manusia untuk pengadilan di Hari Kiamat, Nubuwwah – Bahwa Nabi dan Rasul yang ma’asum dilantik oleh Allah untuk mengajar dan membimbing manusia. Muhammad s.a.w. merupakan Nabi dan Rasul terakhir dan Imamah – Bahwa Allah melantik orang-orang tertentu sebagai pemimpin umat manusia, yakni sebagai Imam. Umat manusia sentiasa ada seorang Imam dan hanya seorang Imam sahaja boleh wujud pada bila-bila masa. Sesetengah Rasul adalah Imam. Contohnya Nabi Ibrahim a.s. yang merupakan Nabi, Rasul dan Imam. Tidak semua imam adalah Nabi atau Rasul pula. Contohnya Imam Ali, yang bukannya seorang Rasul mahupun Nabi tetapi Imam.
  • Dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang kukuh dan terang seperti matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, telah menyakinkan bahawa mazhab Ahlu l-Bait AS adalah mazhab yang benar yang telah diambil oleh Syi’ah daripada para imam Ahlu l-Bait AS dan daripada datuk mereka Rasulullah S.A.W daripada Jibrail AS daripada Allah SWT. Mereka tidak akan menukarkannya dengan yang lain sehingga mereka berjumpa dengan Allah SWT.
  • Wahyu telah diturunkan di rumah mereka dan Ahlul l-Bait (isi rumah) lebih mengetahui dengan apa yang ada dalam rumah daripada orang lain. Lantaran itu orang yang berfikiran waras tidak akan meninggalkan dalil-dalil dari Ahlu l-Bait AS dengan mengambil dalil-dalil dari orang-orang asing (di luar rumah).
  • Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menolak dakwaan syiah ini akan menerangkannya kepada kalian nanti.
  • Doktrin Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin: Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.
  • Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
  • Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain. I’tikadnya tentang kenabian ialah: Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
  • Sekte dalam Syi’ah Syi’ah terpecah menjadi 22 sekte. Dari 22 sekte itu, hanya tiga sekte yang masih ada sampai sekarang, yakni:
  • Dua Belas Imam Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu: Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin, Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba, Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid, Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin, Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir, Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq, Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim, Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha, Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi, Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi, Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari dan Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
  • Ismailiyah Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma’il. Urutan imam mereka yaitu: Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin, Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba, Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid, Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin, Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir, Ja’far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq dan Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
  • Zaidiyah Disebut juga Lima Imam; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu: Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin, Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba, Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid, Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin, Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.

PERTENTANGAN SYIAH DAN SUNNI DALAM MASYARAKAT

  • Berbagai komentar dan analisis sebagian besar TIDAK mengulas akar persoalan yang sesungguhnya. Analisa para pengamat pada umumnya bersisafat klasik seperti  konflik keluarga, kemiskinan, kultur lokal masyarakat Madura, dan kegagalan intelejen.
  • Bila dicermati sebenarnya persoalan antara Sunnah-Syiah adalah problem akidah Islam. Sehingga yang paling tepat menjelaskan solusi damai Sunnah-Syiah adalah para Ulama, bukan pengamat politik, pengamat sosial-kebudayaan dan aktivis LSM liberal.
  • Pengamat sosial-kebudayaan dan aktivis LSM lebih cenderung meninggalkan solusi normatif. Komentar-komentar seperti tersebut di atasb itu justru membuat keruh isu di masyarakat akar rumput. Padahal, isu Sunnah-Syiah menyangkut nilai-nilai romatif dan teologis. Karena kisruh ini merupakan problem keagamaan, makaa penyelesaiannya pun tidak boleh meninggalkan prinsip keagamaan masyarakat. Sehingga, lebih baik pihak-pihak yang tidak memahami akar persoalan tidak bersuara. Serahkan kepada para Ulama, umara dan pihak berwajib untuk menuntaskan persoalan.
  • konflik Sunnah-Syiah di Sampang disebabkan perbedaan aliran. Sejak berkembangnya Syiah di Indonesia, umat mayoritas terusik dengan ajaran-ajaran ‘radikalnya’, seperti cacian terhadap sahabat dan istri Nabi ‘Aisyah radliallahu anha. Keresahan meluas ketika praktik penistaan itu dilakukan dengan terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi lagi.
  • Dari data pengalaman di lapangan sering ditemukan masyarakat yang berkonversi ke Syiah, mereka menjadi ‘fasih’ mencaci para sahabat Nabi. Keanehan inilah yang memicu masyarakat tidak tahan bertindak. Dalam keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunnah), penghormatan terhadap sahabat Nabi apalagi istri beliau merupakan bagian dari ajaran prinsip. Di kalangan jama’ah NU, penghormatan terhadap sahabat Nabi dan istrinya adalah ajaran penting. Sejak di pesantren-pesantren tradisional, para santri sejak dini diingatkan jika menulis atau menyebut sahabat Nabi, jangan lupa diikuti kalimat radliallahu ‘anhum (semoga Allah meridlai mereka). Ini merupaka akhlak luhur terhadap para sahabat yang berjasa pada Islam. Orang-orang yang menghina para sahabat dari madzhab Ahlus Sunnah. Bahwa, kelompok penista sahabat bukan bagian dari madzhab yang sah untuk diikuti. Makin meluasnya problem Syiah di daerah Jawa Timur juga dipicu mencuatnya ‘syiahisasi’ terhadap jama’ah NU.
  • Beberapa tahun lalu, sekitar awal tahun 2000-an, di daerah Jember dan Bondowoso dilaporkan puluhan orang NU awam yang eksodus dari NU dan masuk Syiah karena propaganda alumnus Iran. Kabarnya, waktu itu ada sekitar 50 KK orang NU yang masuk Syiah. Jama’ah awam ini setelah masuk Syiah berani meninggalkan tradisi. Tidak segan-segan menista sahabat nabi dan ‘Aisyah radliallahu anha.
  • Meski telah lama ada indikasi dan kini telah terjadi bentrok fisik, sampai sejauh ini belum ada penyelesaian dari pihak berwenang secara memadai, untuk mencari akar permasalahannya. Peraturan Gubernur Jawa Timur memang telah diterbitkan, namun implementasinya belum maksimal. Sosialisasi juga belum berjalan baik di masyarakat bawah. Maka pihak-pihak terkait harusnya gencar melakukan sosialisasi secara baik.
  • Menghukum pelaku baik dari pihak Sunnah maupun Syiah bukanlah satu-satunya solusi penyelesaian. Pelaku pengrusakan dan penganiyaan tetap diproses sesuai hukum. Begitu pula para penista ditindak sesuai peraturan. Akan tetapi, memenjarakan terdakwa bukan akhir penyelesaian. Sebab, bentrok Sunnah-Syiah di Sampang bukan kriminal murni. Pihak berwenang sebaiknya memahami hal ini, dan mengkaji bersama para Ulama mencari apa penyebab sebenarnya kekisruhan ini.
  • Karena tidak ada arahan dari atas tentang akar kekisruhan, maka aparat keamanan bertugas seperti pemadam ‘kebakaran’. Menunggu api terbakar baru bergerak menyiram dan meredam. Padahal, persoalan Sunnah kontra Syiah bukanlah sekedar ‘kebakaran’. Bukan sekedar kriminal biasa. Bentrok fisik merupakan salah satu akibat dari penyebab-penyebab yang hingga kini belum diselesaikan.
  • Jika ada sinergi pengarahan menyangkut akar persoalan, maka aparat bisa menyelidiki pemicu timbulnya konflik. Pihak berwenang, baik aparat maupun pemerintah harusnya berkonsultasi dengan para Ulama — khususnya Ulama setempat — yang lebih memahami isu yang sesungguhnya.
  • Jika diserahkan kepada aktivis LSM, pengamat sosial-kebudayaan dan politisi sekuler, arah penyelesaian makin rancu. Komentar-komentar mereka cenderung parsial, membalik mengecam mayoritas. Aktivis LSM dan HAM umumnya langsung memvonis pihak mayoritas. Umat mayoritas, misalnya, dituduh tidak toleran, harusnya umat mengayomi minoritas. Apakah benar isu intoleransi yang terjadi di Sampang? Semua pihak harus jeli. Padahal, yang harus dipahami di sini, sebenarnya kekisruhan ini bukan sekedar lagi isu perbedaan, tapi lebih cenderung kasus penistaan agama. Pelaku penganiyaan tetap harus dihukum, namun penistaan agama harus diusut, dicari solusinya.
  • Pihak berwenang hanya berkonsentrasi kepada isu kriminil terhdap kaum minoritas. Sementara umat mayoritas terus-menerus dikecam sembari melupakan kasus penistaan agama yang sudah nyata. Jelas, sikap ini menambah api yang sudah membara di jama’ah awam.
  • Jika semua pihak berwenang mau adil, objektif dan berkomitmen menyelesaikan secara komprehensif, maka sebaiknya ada peraturan pemerintah atau perda melindungi umat mayoritas dari penistaan. Beberapa pengamat mengatakan  semua bentrok dipicu oleh adanya penistaan terhadap ajaran-ajaran suci kaum Sunni.

ARTIKEL TERKAIT

Provided By:

INDOLINE – Indonesia Online 

Lebih baik memilih menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Majukan Indonesia Dengan inspirasi positif. Editor In Chief : dr Widodo Judarwanto SpA. Grand Editor: Audi Yudhasmara. Editor: Sandiaz Yudhasmara, Betanandya Andika Address: Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat  phone 021-5703646 – 021-44661

email: newindonesiaonline@gmail.com http://newindonesiaonline.wordpress.com

Copyright © 2013, @Indonesia Online – Informasi Edukasi Networking. All rights reserved

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Agama Islam dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s