Maulid Nabi Dalam Berbagai Tradisi Budaya Dunia

Maulid Nabi Dalam Berbagai Tradisi Budaya Dunia

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah di seluruh dunia diperigati Maulid Nabi Muhammad SAW atau hari lahir Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan tersebut bagi umat muslim adalah penghormatan dan pengingatan kebesaran dan keteladanan Nabi Muhammad dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagaamaan. Meski sampai saat ini masih ada kontroversi tentang peringatan tersebut di antara beberapa ulama yang memandang sebagai Bidah atau bukan Bidah. Tetapi saat ini maulid nabi diperingati secara luas di seluruh dunia termasuk tradisi budaya Indonesia.

Maulid nabi dirayakan seluruh penjuru dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Yang menarik justru Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Hal ini disebakan karena mayoritas muslim Arab Saudi menganut  paham wahabi dominan termasuk salaf dan pemahaman taliban. Perayaan  Maulid Nabi seperti ini dianggap bid’ah.

Terdapat perbedaan waktu peringatan maulid nabi di dunia. Sebagian masyarakat muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal. Sedangkan muslim Syiah merayakannya sedikit berbeda yaitu pada tanggal 1ki7 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Sejarah

Perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Pada awalnya bertujuan untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Tetapi menurut Imam As-Suyuthi seperti yang ditulis dalam kitab Husn Al-Maqosid fi Amal Al-Maulid megungkapkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan perayaan maulid Nabi adalah Malik Mudzofah Ibnu Batati, penguasa dari negeri Ibbril yang terkenal loyal dan berdedikasi tinggi. Pada masa Abbasiyah, sekitar abad kedua belas masehi, perayaan maulid Nabi dilaksanakan secara resmi yang dibiayai dan difasilitasi oleh khalifah dengan mengundang penguasa lokal. Acara peringatan itu diisi dengan puji-pujian dan uraian maulid Nabi, serta dilangsungkan dengan pawai akbar mengelilingi kota diiringi pasukan berkuda dan angkatan bersenjata.

Di Indonesia, perayaan maulid nabi disahkan oleh negara sebagai hari besar dan hari libur nasional. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian.

Dalam tradisi masyarakat Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Tradisi ritual biasanya menyertai dalam perayaan Maulid Nabi di daerah Jawa khususnya di Yogyakarta, Cirebon dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah. Tradisi budaya Jawa yang biasanya dilakukan masyarakat tertentu adalah ritual memandikan benda-benda pusaka. Benda-benda pusaka seperti keris, tombak atau barang pusaka lainnya tersebut dimandikan dengan air yang sudah di racik dengan ramuan bunga tujuh warna yang kemudian air bekas ‘memandikan’ benda-benda pusaka tersebut bisa diambil. Sebagian masyarakat meyakini bahwa air tersebut mengandung berbagai macam khasiat dan berguna untuk berbagai keperluan dan keberkahan.

Paegelaran kesenian yang biasanya dilakukan masyarakat adalah pagelaran wayang kulit atau wayang golek sejak siang hingga malam hari. Masyarakat sekitar yang masih mempercayai tradisi tersebut, pada malam harinya hadir di tempat tersebut untuk berdo’a dan melakukan berbagai macam aktifitas lainnya yang menurut kepercayaan mereka akan membawa keberkahan bagi hidupnya. Hal itu, dilakukan dari mulai matahari tenggelam hingga pagi menjelang.

Di daerah Yogjakarta tradisi muludan dilakukan kegiatan tradisi budaya Sekatenan. Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Kata Sekaten secara turun temurun merupakan bentuk transformasi kalimat “Syahadat”. Syahadat yang banyak diucapkan sebagai Syahadatain ini kemudian menyatu dengan bahasa lokal khususnya kultur dan sastra Jawa sehingga menjadi Syakatain dan pada akhirnya bertransformasi menjadi istilah Sekaten hingga sekarang.

Sekaten diselenggarakan pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan mulud atau bulan ke tiga dari penanggalan Jawa. Tradisi Sekatenan biasanya dilakukan di Keraton Jogjakarta dan Keraton Surakarta.

Perayaan sekaten terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. Diawali dengan “Sekaten Sepisan” yaitu kegiatan dibunyikannya dua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu, kemudian pemberian sedekah `Ngarso Dalem` Sri Sultan HB X berupa `udhik-udhik` atau menyebar uang dan kemudian diangkatnya kedua gamelan menuju Masjid Agung Jogjakarta dan ditutup dengan Grebeg.

Pada masa penyiaran agama Islam di Jawa oleh Sunan Kalijogo mempergunakan sarana budaya lokal untuk berdakwah. Salah satunya mempergunakan instrumen musik Jawa Gamelan, sebagai sarana untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitannya. Saat itu sunan Kalijogo menggunakan dua perangkat gamelan yaitu laras swara yang merdu yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu.

Sebelum acara puncak muludan, sekitar tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Menjelang tengah malam antara ke dua perangkat gamelan tersebut dipindahkan kehalaman Masjid Agung Jogjakarta, dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Keraton berseragam lengkap.

Puncak acara kegiatan Sekaten adalah “Grebeg Maulud”, yaitu diusungnya sepasang gunungan berisi beberapa makanan untuk keluar dari Masjid Agung setelah sebelumnya didoakan oleh para ulama setempat.  Masyarakat di daerah tersebut percaya bahwa berebut dan memakan sajian makanan dari gunungan Sekaten akan membawa berkah tersendiri dalam keselamatan hidup serta rezeki dan hasil panen melimpah. Kepercayaan lain masyarakat Jogjakarta saat muludan adalah mengunyah sirih pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten di halaman Masjid Agung. Saat itu banyak orang berjualan sirih dengan berbagai ramuan herbal, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan, Alun-alun Utara dan di sekitar Masjid Agung Jogjakarta.

sumber : wikipedia dan berbagai sumber lainnya

 

Supported By :

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6YmYb-hui0xP9f-qqBB_K64r-8VBm1tFHJQcztlW4hvtQ7V37Xw
Audi Yudhasmara
KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

Copyright 2011. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Agama Islam, Budaya Dunia, Budaya Indonesia Terkini, Kebudayaan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s